Opini  

Hati-Hati, Makanan Ini Berbahaya Kalau Dipanaskan Lagi

arum ka
makanan yang bahaya jika dipanaskan lagi

Kebiasaan memanaskan kembali sisa makanan memang terlihat praktis dan efisien. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa beberapa jenis makanan justru bisa berubah berbahaya setelah melalui proses pemanasan ulang.

Proses pemanasan bisa membuat kandungan vitamin tertentu, terutama vitamin C dan vitamin B, berkurang lebih dari 50%, terutama pada sayuran yang dipanaskan berulang kali karena zat gizi sensitif panas mudah rusak saat dimasak ulang.

Selain itu, survei perilaku konsumsi di rumah tangga menemukan bahwa sekitar 14% dari keseluruhan kesempatan makan sisa menunjukkan makanan dipanaskan kembali, dan lebih dari setengahnya dilakukan kurang dari 2 menit, yang berisiko tidak cukup panas untuk membunuh bakteri berbahaya yang tumbuh sejak makanan pertama kali dimasak.

Sebelum terbiasa memanaskan panci atau menekan tombol reheat di microwave tanpa pikir panjang, ada baiknya mengenali makanan apa saja yang sebaiknya tidak dipanaskan kembali demi menjaga kesehatan keluarga, karena selain perubahan kandungan gizi, ada pula potensi pembentukan senyawa berbahaya dan risiko keracunan makanan jika dilakukan tanpa prosedur yang benar atau terlalu sering.

1. Bayam

Bayam dikenal sebagai sumber zat besi dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Namun, memanaskan bayam kembali dapat mengubah kandungan nitrat di dalamnya menjadi nitrit. Senyawa ini berpotensi berbahaya bila dikonsumsi berulang. 

Proses ini terjadi terutama ketika bayam disimpan terlalu lama pada suhu ruang sebelum dipanaskan ulang. Karena itu, sebaiknya konsumsi bayam dalam keadaan segar atau langsung habiskan setelah dimasak.

2. Kentang

Kentang sering dianggap aman untuk dipanaskan kembali, padahal proses ini bisa menimbulkan risiko jika tidak dilakukan dengan benar. 

Ketika kentang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang setelah dimasak, bakteri Clostridium botulinum dapat tumbuh dan menghasilkan racun yang tidak hilang meski sudah dipanaskan ulang. 

Selain itu, tekstur dan rasanya pun bisa berubah menjadi tidak sedap. Untuk mencegah hal ini, simpan kentang di lemari pendingin segera setelah matang, dan usahakan untuk dikonsumsi dalam satu kali penyajian.

3. Ayam

Daging ayam yang sudah dimasak mengandung protein kompleks yang bisa berubah struktur saat dipanaskan kembali. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi tekstur dan rasa, tetapi juga dapat mengganggu sistem pencernaan jika pemanasannya tidak merata. 

Jika ayam disimpan terlalu lama sebelum dihangatkan, bakteri seperti Salmonella atau Campylobacter dapat berkembang dan menimbulkan risiko keracunan makanan. Untuk lebih aman, pastikan ayam dimasak dengan suhu yang cukup dan sebaiknya dikonsumsi segera setelah disajikan.

4. Jamur

Jamur merupakan sumber protein nabati, serat, serta berbagai mineral penting seperti selenium, kalium, dan vitamin B kompleks. 

Namun, di balik manfaat nutrisinya, jamur tergolong bahan makanan yang sensitif dan mudah rusak, terutama setelah dimasak. Struktur proteinnya cepat berubah bila terpapar panas berulang atau disimpan terlalu lama pada suhu ruang. 

Jika dipanaskan atau dimasak ulang, komponen gizi di dalam jamur dan memicu pembentukan senyawa yang sulit dicerna, sehingga dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut kembung atau mual.

5. Telur

Telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam amino esensial. Namun, sifat proteinnya sangat sensitif terhadap panas.

Saat telur dimasak, struktur proteinnya berubah dari bentuk cair menjadi padat dan ketika dipanaskan kembali, perubahan tersebut bisa terjadi secara berlebihan (over-denaturation), membuat protein sulit dicerna tubuh dan menurunkan kandungan gizinya.

Pemanasan ulang telur juga dapat memicu oksidasi pada lemak dan kolesterol di dalam kuning telur. Proses ini menghasilkan senyawa yang berpotensi memicu peradangan jika dikonsumsi terlalu sering.

6. Sayur Bersantan

Sayur bersantan seperti opor ayam, lodeh, atau gulai memang menggugah selera, namun jenis makanan ini sebaiknya tidak terlalu sering dipanaskan kembali. Santan mengandung lemak jenuh yang mudah teroksidasi saat dipanaskan berulang kali. 

Proses oksidasi ini dapat menurunkan kualitas gizi sekaligus menghasilkan senyawa radikal bebas yang berpotensi memicu peradangan dalam tubuh.

Selain itu, santan yang bercampur dengan bahan protein seperti ayam atau telur dapat mempercepat pembusukan, terutama jika disimpan di suhu ruang terlalu lama. Akibatnya, meski terlihat masih baik, sayur bersantan yang sudah dua kali dipanaskan bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau keracunan ringan. 

Untuk menjaga keamanan, sebaiknya masak dalam porsi secukupnya, simpan di kulkas jika belum habis, dan panaskan hanya sekali dengan suhu tinggi sebelum dikonsumsi.

7. Seafood

Seafood seperti udang, cumi, atau ikan termasuk bahan makanan yang sangat mudah rusak dan sensitif terhadap perubahan suhu. Setelah dimasak, protein di dalam seafood akan terurai dengan cepat bila dibiarkan terlalu lama atau dipanaskan kembali. Akibatnya, tekstur bisa menjadi alot dan rasa amisnya semakin kuat. 

Lebih dari itu, pemanasan ulang juga dapat memicu pertumbuhan bakteri Vibrio atau Listeria jika penyimpanan sebelumnya tidak dilakukan dengan benar.

Selain berisiko menimbulkan gangguan pencernaan, pemanasan ulang seafood juga bisa mengubah kandungan lemak tak jenuhnya menjadi senyawa oksidatif yang tidak baik bagi kesehatan

Penutup

Memanaskan kembali makanan memang terasa praktis, terutama di tengah kesibukan harian. Namun, seperti yang telah dibahas, tidak semua makanan aman untuk melalui proses tersebut. 

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, informasi seperti ini bisa disampaikan dengan cara yang lebih menarik, misalnya melalui video marketing edukatif. 

Sebagai langkah nyata, biasakan menyimpan makanan dengan benar. Masukkan ke dalam wadah tertutup dan simpan di lemari pendingin bila tidak langsung dikonsumsi. Panaskan hanya sekali dengan suhu yang cukup tinggi, dan usahakan memasak dalam porsi yang pas.

 

Referensi:

https://www.thewellnesscorner.com/blog/health-risks-of-reheating-food

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *