Indonesia: Minat Baca Rendah, Tapi Paling Cerewet di Medsos

iim maya sofa
Indonesia: Minat Baca Rendah, Tapi Paling Cerewet di Medsos

Minat baca rendah merupakan fakta yang sudah tidak asing bagi negara kita, Indonesia. Isu ini telah menjadi primadona dan menjadi kembang hias untuk fakta-fakta menarik lainnya di Indonesia. Bahkan, data yang ada pun, hanya sebagai bahan pembicaraan sementara dan tidak mengubah pola pikir masyarakat.

Meskipun Indonesia merupakan negara yang kaya akan cerita rakyat, dongeng, budaya, sastra, dan pengetahuan lokal. Nyatanya data statistik menunjukkan bahwa minat baca di kalangan masyarakat masih belum mencapai tingkat yang diharapkan.

Fenomena ini dapat dilihat dari rendahnya kunjungan ke perpustakaan, minimnya pembelian buku, dan kurangnya budaya membaca yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masih banyak lagi fakta yang jelas terlihat tetapi mudah terabaikan.

Indonesia: Minat Baca Rendah, Tapi Paling Cerewet di Medsos

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menuliskan sebuah opini tentang paradoks yang menarik. Terlihat di mana warga Indonesia cenderung menjadi sangat aktif dan cerewet di media sosial, ketimbang aktif membaca buku atau membaca informasi. Apa yang menyebabkan kesenjangan dan kontras dalam perilaku kita selama ini?

Tingkat Literasi Masyarakat Indonesia

Indonesia masih menjadi peringkat kedua dari bawah perihal minat baca masyarakatnya. Fakta ini saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (kominfo.go.id). Kementerian Kominfo, menjelaskan bahwa data dari UNESCO, hanya 0,001% tingkat minat baca di Indonesia.

Artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang rajin membaca. Ini adalah fakta yang memprihatinkan bari negara besar seperti Indonesia. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, Indonesia menduduki peringkat di atas negara-negara eropa.

Keaktifan di Medsos dan Kesenjangan Literasi

Di sisi lain, warga Indonesia menunjukkan keaktifan yang luar biasa di media sosial. Mereka terlibat dalam percakapan, berbagi informasi, dan membangun komunitas secara online. Kesenjangan antara minat baca yang rendah dengan keaktifan di medsos menggambarkan pergeseran perilaku literasi.

Menurut data yang ada, Indonesia berada di urutan ke lima di dunia, terbanyak kepemilikan gadget atau gawai. Dengan pertumbuhan pengguna smartphone yang semakin meningkat, menjadikan Indonesia menduduki jajaran peringkat atas di dunia.

Fakta menariknya lagi, masyarakat Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam per hari. Ini merupakan fakta yang benar-benar kontradiktif dengan fakta minat baca masyarakat Indonesia. Sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi netijen yang cerewet di media sosial dengan peringkat pertama di asia, dan peringkat ke empat di dunia.

Mengapa bisa demikian?

Mencari faktor penyebab utamanya akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, dibanding harus menyadarkan diri sendiri bahwa dengan membaca, akan membasmi kebodohan. Jika masalahnya adalah harga buku yang mahal, justru ini tidak mungkin.

Karena faktanya, warga Indonesia menduduki jajaran teratas pengguna ponsel yang mana harga ponsel jauh lebih mahal dibanding dengan buku cetak dan buku digital. Artinya bukan karena harga buku yang mahal ya.

Menurut pengamatan saya, biasanya seseorang hanya belajar untuk membaca, tetapi bukan membaca untuk belajar. Artinya, pola pikir seperti ini hanya meningkatkan kemampuan membaca dan mengeja, bukan tingkat disiplin membaca atau keinginan riset menambah pengetahuan dari membaca.

Biasanya, masyarakat dengan pola pikir seperti ini akan mudah terpancing dengan judul berita tanpa membaca isi berita. Inilah yang menyebabkan mudahnya membagikan informasi tanpa tahu isi informasi tersebut.

Artinya, jumlah buku yang banyak dan menumpuk berdebu di perpustakaan sekolah, tidak serta merta akan meningkatkan nilai literasi kita.

Meskipun negara telah menyediakan berbagai infrastruktur berupa perpustakaan, atau menyumbangkan ribuan buku bacaan ke sekolah-sekolah, ini tidak akan berhasil untuk meningkatkan nilai literasi kita. Karena ternyata minat baca dan memperkaya literasi pada diri hanya datang pada kemauan diri yang kuat.

Artinya, faktor satu-satunya adalah rasa kesadaran masyarakat yang rendah akan kebutuhan membaca guna meningkatkan kualitas SDM. Minat baca yang rendah adalah murni disebabkan pribadi masing-masing. Tidak ada sangkut paut dengan pemerintah, atau alasan lainnya.

Langkah Menuju Keseimbangan Literasi

Peningkatan literasi di Indonesia memerlukan pendekatan komprehensif. Inisiatif untuk meningkatkan minat baca di antara masyarakat bisa dilakukan dengan membuka akses ke perpustakaan, mendorong kebiasaan membaca sejak usia dini, dan mempromosikan kegiatan literasi yang menarik.

Sementara itu, penting juga untuk terus mengembangkan keterampilan literasi digital yang kuat. Pelatihan tentang cara mengonsumsi dan memahami informasi yang tepat secara online. Serta membangun kemampuan kritis dalam menyaring berita, dapat menjadi langkah penting dalam menghadapi era informasi digital.

Solusinya

Solusi paling masuk akal adalah, dengan melihat ketertarikan masyarakat kepada media sosial, maka salah satu caranya adalah menggunakan konten mendidik untuk dikonsumsi masyarakat. Maka dari itu, penting untuk mengenali potensi besar di balik literasi digital.

Melalui platform media sosial, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi, berdiskusi, dan memperluas wawasan mereka. Namun, penting juga untuk memastikan bahwa literasi digital tidak menggantikan pentingnya literasi konvensional yang didapat dari membaca buku.

Kesimpulan

Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun masyarakat yang literat, baik dalam literasi konvensional maupun literasi digital. Mendorong minat baca seiring dengan memperkuat keterampilan literasi digital dapat menciptakan generasi yang terhubung dengan baik dalam dunia maya dan dunia nyata.

Ini bukan tentang menilai tinggi rendahnya preferensi literasi, tetapi tentang menciptakan keseimbangan yang sehat antara minat baca dengan perkembangan teknologi khususnya media sosial. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, maka akan menciptakan keseimbangan yang disebut dengan literasi digital.

Sekian artikel opini tentang minat baca rendah masyarakat Indonesia dari saya. Semoga dengan membaca tulisan ini, dapat menjadikan diri lebih termotivasi untuk menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Sekian dan sampai jumpa di artikel berikutnya!

 

sumber:

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (kominfo.go.id).

Akun TikTok: @KenalKenalIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *