7 Hal yang Sebaiknya Jangan Kamu Umbar di Media Sosial

Panduan santai tapi serius agar jempolmu tidak bikin hidupmu masuk FYP masalah, dari urusan privasi, kerjaan, sampai drama pribadi.

Untung Sudrajad
7 Hal yang Sebaiknya Jangan Kamu Umbar di Media Sosial
7 Hal yang Sebaiknya Jangan Kamu Umbar di Media Sosial (sumber: pexels)

 

Di zaman sekarang, jempol manusia berkembang lebih pesat daripada akal sehat. Bangun tidur bukan lagi sikat gigi, tapi buka Instagram. Sebelum sarapan, sudah cek TikTok. Sebelum tidur, masih sempat update story: “Capek banget hidup ini.”

Media sosial sudah seperti makanan pokok kalau sehari tidak ada, hidup terasa hambar. Kita berbagi momen, curhat, pamer, mengeluh, jatuh cinta, putus, bahkan kadang… oversharing sampai lupa dunia ini bukan cuma diisi teman dekat, tapi juga mantan, bos, tetangga kepo, penipu online, dan orang random yang hobinya screenshoot lalu nyebar.

Masalahnya, tidak semua hal layak jadi konsumsi publik. Tidak semua cerita pantas naik ke feed. Dan tidak semua perasaan perlu diumumkan seperti pengumuman RT. Media sosial memang memberi panggung, tapi kalau kita tidak hati-hati, kita bisa jadi aktor utama dalam drama yang kita buat sendiri. Maka sebelum jempolmu makin liar, mari kita bahas dengan santai, lucu, dan sedikit satir: 7 hal yang sebaiknya tidak kamu bagikan di media sosial, demi kewarasan, keamanan, dan masa depanmu sendiri.

1. Informasi Pribadi: Bukan Semua Data Harus Jadi Konten

Ada orang yang bangga pamer KTP, tiket pesawat, kartu ATM, sampai alamat rumah di story. Alasannya sederhana: “Biar kelihatan keren, aesthetic atau status sosial naik.”
Padahal, di balik layar, ada orang yang tidak peduli aesthetic, tapi peduli bagaimana caranya menguras rekeningmu.
Informasi pribadi itu seperti kunci rumah. Kalau kamu sebarkan ke publik, jangan heran kalau suatu hari ada yang masuk tanpa permisi.
Nomor KTP, SIM, paspor, kartu kredit, rekening bank, alamat rumah, tempat kerja, sampai jadwal harian bukan bahan konten. Itu bahan kejahatan.
Bayangkan kamu update:
“Finally liburan seminggu, rumah kosong 😍✈️.”
Bagi kamu itu kabar bahagia, bagi pencuri itu undangan resmi.
Media sosial bukan buku harian. Ia lebih mirip papan pengumuman di tengah pasar. Semua orang bisa lihat, simpan, dan pakai. Jadi sebelum upload, tanya dulu: ini buat teman, atau buat calon penipu?

2. Foto atau Video yang Terlalu Pribadi: Internet Tidak Pernah Lupa

Ada satu kebohongan besar di media sosial: “Nanti juga bisa dihapus.”
Nyatanya, internet punya ingatan lebih kuat daripada mantan yang belum move on. Sekali konten tersebar, kamu tidak lagi punya kendali.
Foto intim, video pribadi, momen memalukan, atau konten yang diambil tanpa persetujuan sering jadi boomerang. Hari ini mungkin lucu, lima tahun lagi bisa jadi penghalang karier.
Banyak orang kehilangan pekerjaan bukan karena tidak pintar, tapi karena HR menemukan jejak digital yang “terlalu jujur”.
Apalagi soal anak-anak. Orang tua sering bangga memamerkan setiap sudut kehidupan anak. Padahal, tidak semua orang di internet punya niat baik. Foto polos bisa berubah fungsi di tangan yang salah.
Media sosial bukan album keluarga. Ia panggung global. Kalau kamu tidak mau fotomu dipajang di baliho jalanan, mungkin tidak perlu memajangnya di feed.

3. Keluhan Kerja: Timeline Bukan Ruang Curhat Kantor

Setelah pulang kerja capek, godaan terbesar adalah nulis:
“Bos gue toxic banget.”
“Kantor ini nggak manusiawi.”
“Rekan kerja isinya drama semua.”
Masalahnya, media sosial bukan warung kopi. Yang baca bukan cuma teman, tapi juga kolega, HR, bahkan bos itu sendiri yang diam-diam stalking.
Keluhan yang kamu anggap biasa bisa berubah jadi bukti digital. Tidak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan hanya karena satu status emosional.
Bukan berarti kamu harus memendam semuanya. Tapi pilih tempatnya. Curhatlah ke teman, bukan ke algoritma.
Karena di dunia kerja, reputasi online sering lebih cepat sampai daripada CV.
Ingatlah mulutmu harimaumu, tapi jempolmu bisa lebih ganas lagi.

4. Pendapat Kontroversial: Beda Opini Bukan Berarti Beda Otak

Media sosial sering terasa seperti ring tinju. Semua orang ingin menang argumen. Semua ingin viral.
Masalahnya, tidak semua opini perlu diumumkan dengan nada provokatif.
Ujaran kebencian, komentar rasis, teori konspirasi, atau provokasi politik ekstrem sering berawal dari “sekadar pendapat”, lalu berubah jadi masalah serius.
Sekali kamu dicap, sulit menghapus label itu. Internet suka mengarsipkan kesalahan lebih rajin daripada prestasi.
Berdebat boleh. Berpikir kritis perlu. Tapi menyiram bensin ke api hanya bikin dunia makin panas, dan kamu jadi target empuk konflik.
Kadang, diam itu bukan kalah, tapi cerdas. Tidak semua pertempuran perlu kamu menangkan di kolom komentar.

5. Rencana Liburan: Jangan Umumkan Rumah Kosongmu

Ada dua fase liburan di media sosial:
Sebelum berangkat: pamer tiket.
Saat di sana: pamer lokasi real-time.
Bagi teman, itu konten. Bagi orang jahat, itu peta.
Ketika kamu update lokasi secara langsung, kamu memberi tahu dunia: “Aku tidak di rumah.”
Tidak sedikit kasus pencurian yang berawal dari story liburan.
Lebih aman upload setelah pulang. Biar kenangan tetap cantik, tanpa risiko kehilangan barang di rumah.
Liburan itu untuk bahagia, bukan untuk memberi info gratis ke calon maling.

6. Informasi Medis: Tidak Semua Penyakit Harus Jadi Trending

Berbagi pengalaman kesehatan memang bisa membantu orang lain. Tapi ada garis batas antara edukasi dan membuka terlalu banyak pintu privasi.
Diagnosis detail, kartu asuransi, rekam medis, atau video prosedur yang terlalu grafis bisa disalahgunakan.
Data kesehatan bisa dipakai untuk diskriminasi, penipuan, bahkan manipulasi.
Kesehatan itu urusan personal. Boleh berbagi inspirasi, tapi jangan membuka semua lembaran medis seperti novel di toko buku.
Privasi tubuhmu sama berharganya dengan dompetmu.

7. Drama Pribadi: Timeline Bukan Pengadilan Keluarga

Pertengkaran dengan pasangan, konflik keluarga, perceraian, gosip, dan masalah hukum sering tumpah ke media sosial karena emosi lebih cepat dari logika.
Saat marah, orang ingin didengar. Tapi ketika emosi reda, yang tertinggal hanyalah jejak digital.
Masalah pribadi yang diumbar sering tidak menyelesaikan masalah, justru menambah penonton.
Alih-alih damai, yang ada komentar:
“Wah parah.”
“Putusin aja.”
“Spill dong.”
Media sosial tidak menyembuhkan luka, ia hanya memperbesar suara.
Kadang, menyimpan cerita untuk diri sendiri jauh lebih menenangkan daripada menjadikannya tontonan umum.

Penutup: Bijak Sebelum Viral, Cerdas Sebelum Menyesal

Media sosial itu seperti pisau dapur. Di tangan yang tepat, ia membantu. Di tangan yang ceroboh, ia melukai.
Kita hidup di zaman di mana satu postingan bisa mengangkat karier, tapi juga bisa menghancurkannya. Satu story bisa mendekatkan, tapi juga membuka bahaya.
Sebelum menekan tombol “unggah”, berhentilah sejenak. Tarik napas. Lalu tanya:
“Apakah aku rela konten ini dilihat bos, keluarga, anak cucu, dan orang asing?”
Kalau ragu, simpan.
Karena tidak semua yang kita pikirkan harus diketahui dunia. Tidak semua yang kita rasakan perlu dijadikan konsumsi publik.
Media sosial seharusnya membuat hidup lebih ringan, bukan lebih ribet. Lebih menyambung, bukan membuka masalah baru.
Gunakan ia sebagai jendela, bukan sebagai tempat menaruh seluruh isi rumahmu.
Bijaklah dengan jempolmu. Karena di era digital, masa depan sering ditentukan bukan oleh apa yang kita lakukan, tapi oleh apa yang kita bagikan.

Referensi:
https://www.idntimes.com/life/inspiration/hal-yang-sebaiknya-tidak-kamu-bagikan-di-media-sosial-c1c2-01-8zbhv-6lf4zj
https://www.liputan6.com/hot/read/5980254/jangan-latah-sharing-10-hal-ini-tak-perlu-diumbar-di-media-sosial
https://rakyatbengkulu.disway.id/lifestyle/read/698428/7-hal-yang-sebaiknya-tidak-diposting-di-media-sosial-jangan-asal-unggah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *