6 Kebiasaan Hidup yang Membuatmu Tetap Miskin Sampai Tua

Kenali pola pikir dan gaya hidup yang diam-diam menguras dompetmu, serta langkah sederhana agar keuanganmu naik kelas.

Untung Sudrajad
6 Kebiasaan Hidup yang Membuatmu Tetap Miskin Sampai Tua
6 Kebiasaan Hidup yang Membuatmu Tetap Miskin Sampai Tua (Sumber: Chatgpt)

 

Pernahkah kamu merasa kesal karena dompet selalu tipis? Atau mungkin kamu sering bertanya-tanya kenapa teman-teman kayaknya lebih mapan secara finansial? Tenang, kamu tidak sendirian kok.

Banyak dari kita yang suka pusing mikirin duit. Tapi sebenarnya, masalahnya bukan cuma soal gaji yang kecil lho. Kadang, kebiasaan dan cara pikir kita sendiri yang bikin kantong bolong terus.

Yuk, kita bahas bareng-bareng 6 hal yang bisa membuat kamu terus melarat. Siapa tahu ada yang perlu kamu ubah nih.

1. Hobi Belanja Dadakan Tanpa Rencana

Siapa sih yang tidak pernah tergoda sama diskon gede atau barang-barang keren yang tiba-tiba nongol di timeline?

Belanja dadakan atau impulsive buying ini memang bisa jadi “penyakit” yang banyak diderita orang, apalagi di jaman serba online kayak sekarang.

Bayangkan saja, baru saja gajian dan ada niat mau nabung. Eh, tiba-tiba ada notif flash sale di app belanja online. Tanpa mikir panjang, jari langsung “auto-klik” tombol “Beli Sekarang”. Selamat, kamu baru aja kena jebakan batman.

Kebiasaan ini sangat berbahaya sekali buat kantong kamu lho. Soalnya, barang yang dibeli dadakan begini seringkali bukan sesuatu yang bener-bener kamu butuhkan.

Alhasil, duit yang harusnya bisa ditabung malah lenyap begitu aja.
Biar tidak kena, cobalah selalu buat daftar belanja dan pegang teguh itu daftar.

Tanya diri sendiri: “aku beneran butuh barang ini tidak sih?” Kalo jawabannya tidak, mending skip saja dulu ya.

2. Hobi Pamer

Flexing atau pamer memang kelihatan keren di medsos. Tapi percayalah, kebiasaan ini bisa menjadi bumerang untuk kantong kamu.

Suka pamer sering membuat kita membeli barang-barang yang sebenarnya di luar kemampuan, cuma untuk mendapat pengakuan atau likes di sosmed.

Cobalah, melihat feed Instagrammu. Berapa banyak foto yang menunjukkan barang mahal atau momen “fancy” yang sebenarnya membuat kamu keringat dingin pas meliat tagihan kartu kredit?

Kebiasaan pamer ini juga bisa membuat kamu iri sama orang lain dan tidak puas dengan apa yang sudah kamu miliki. Padahal, kunci dari sehat finansial itu ya bersyukur dan bisa merasa cukup.

Mulailah kurang posting di medsos, terutama yang pamer-pamer gitu.
Mending fokus mengembangkan diri dan mengejar prestasi yang lebih berarti.

Percayalah, bahagia itu tidak diukur dari jumlah likes yang kamu dapat.

3. Hidup Melebihi Kemampuan

“Gaya boleh sultan, dompet tetep rakyat.” Mungkin kalimat ini sering kita dengar sebagai bercandaan.

Tapi faktanya, banyak orang yang betul – betul menjalani gaya hidup di atas kemampuan finansial mereka.

Hidup melebihi kemampuan ini bisa muncul dalam banyak bentuk.

Mulai dari menyewa apartemen yang kemahalan, beli mobil mewah dengan cicilan yang mencekik, sampe selalu makan di restoran mahal padahal penghasilan pas-pasan.

Kebiasaan ini tidak hanya membuat tabungan kamu habis, tapi juga bisa menyeretmu ke kubangan hutang. Dan percayalah, keluar dari jeratan hutang itu jauh lebih susah daripada menghindarinya dari awal.

Solusinya? Mulai membuat anggaran yang masuk akal. Hitung semua pemasukan dan pengeluaranmu dengan detail. Pastikan pengeluaranmu tidak lebih dari 70-80% dari penghasilan. Sisanya, simpan untuk tabungan dan investasi.

Ingat, tidak ada salahnya hidup sederhana. Justru dengan hidup sesuai kemampuan, kamu bisa tidur nyenyak tanpa dihantui mimpi buruk tagihan menumpuk.

4. Takut Ketinggalan (FOMO)

FOMO atau “Fear of Missing Out” ini adalah penyakit jaman now yang bisa membahayakan kantongmu.

Bayangkan saja, temen-temen posting foto liburan ke Bali. Tiba-tiba kamu merasa harus ikut pergi juga, padahal tabungan belum cukup.

Atau mungkin ada tren fashion terbaru yang bikin kamu merasa “kudet” kalo tidak ikutan beli.

FOMO sering membuat kita asal keluar duit demi pengalaman atau barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Akibatnya, jadi susah nabung atau investasi untuk masa depan.

Untuk mengatasi FOMO, cobalah lebih selektif saat melihat konten di medsos.

Ingat, yang kamu liat di Instagram atau TikTok itu seringkali cuma bagian terbaiknya saja.

Lebih baik fokus dengan tujuan finansial jangka panjangmu sendiri, bukan dengan apa yang orang lain lakukan atau miliki.

5. Takut Ambil Risiko

Duit itu harus disimpen di bawah bantal. Mungkin kamu pernah dengar nasihat kayak seperti ini dari orang tua atau saudara.

Memang benar kita harus hati-hati dalam mengatur keuangan, tapi kalau kebangetan takut ambil risiko juga bisa membuatmu terus melarat.

Banyak orang yang ngerasa “aman” dengan hanya menabung uang di bank.
Padahal, dengan inflasi yang terus naik, nilai uangmu sebenarnya makin turun kalau hanya disimpan begitu saja.

Takut investasi, takut mulai bisnis, atau bahkan takut meningkatkan skill untuk mendapat gaji lebih besar, semuanya bisa menjadi penghalang untuk pertumbuhan finansialmu.

Akan tetapi ini bukan berarti kamu harus langsung terjun ke investasi berisiko tinggi atau mempertaruhkan semua tabungan untuk bisnis yang belum jelas lho ya.

Maksudnya di sini adalah berani keluar dari zona nyaman finansial dan mulai belajar berbagai cara untuk mengembangkan uangmu.

Mulailah belajar tentang investasi simpel seperti reksadana atau obligasi.

Atau mungkin kamu bisa ambial sebagian tabungan untuk mengikuti kursus atau pelatihan yang bisa meningkatkan nilai jualmu di dunia kerja.

Ingat, risiko dan potensi untung itu selalu jalan beriringan dalam dunia finansial.

6. Kurang Disiplin

Yang terakhir, kurangnya disiplin finansial bisa menjadi penyebab utama kamu terus melarat.

Disiplin di sini mencakup banyak hal, mulai dari disiplin membuat dan mengikuti rencana anggaran, disiplin menabung, sampai dengan disiplin membayar tagihan tepat waktu.

Banyak orang yang punya niat bagus untuk mengatur keuangan mereka lebih baik.

Tapi sayangnya, niat saja tidak cukup. Tanpa disiplin dan konsistensi, semua rencana finansial yang bagus hanya menjadi wacana saja.

Misalnya, kamu sudah niat menyisihkan 20% dari gaji bulanan untuk ditabung.

Tetapi begitu gajian, tiba-tiba muncul godaan untuk mrmbeli gadget baru atau nongkrong di kafe kekinian.

Tanpa disiplin yang kuat, bisa saja niat menabung kamu langsung lenyap begitu saja.

Untuk meningkatkan disiplin finansial, cobalah membuat sistem “otomatis” dalam mengatur keuanganmu. Misalnya, dengan mengatut auto debit untuk tabungan atau investasi rutin.

Dengan begitu, kamu tidak perlu bergantung pada “mood” atau keinginan sesaat untuk menabung.

Selain itu, penting juga buat selalu memeriksa pengeluaranmu.
Ada banyak aplikasi yang bisa membantumu mencatat setiap rupiah yang keluar dari dompet.

Dengan melihat pola pengeluaranmu, akan lebih mudah melihat area mana yang perlu diperbaiki.

Kesimpulan

Nah, itulah 6 hal yang bisa membuatmu terus melarat. Hobi belanja dadakan, demen pamer, hidup melebihi kemampuan, FOMO, takut ambil risiko, dan kurang disiplin, semuanya bisa jadi penghalang besar dalam perjalananmu menuju kebebasan finansial.

Tapi jangan khawatir, menyadari kebiasaan-kebiasaan buruk ini adalah langkah pertama yang penting sekali. Selanjutnya, yang kamu butuhkan adalah tekad kuat dan konsistensi untuk mengubah cara pikir dan kebiasaanmu.

Inget, perjalanan menuju kebebasan finansial itu bukan lari sprint, tapi maraton.

Mungkin tidak mudah di awal, tapi dengan sabar dan tekun, kamu pasti akan sampai pada tujuan finansialmu.

Jadi, sudah siap keluar dari lingkaran kemiskinan dan mulai menata masa depan finansialmu? Yuk, gas dari sekarang.

Referensi:

https://www.kabarmuda.com/muda-bicara/1456114133/banyak-orang-tetap-miskin-hingga-tua-ini-6-sifat-yang-harus-dihindari-jika-ingin-kaya?page=2

https://www.sukabumiupdate.com/life/144766/10-kebiasaan-orang-miskin-yang-membuat-hidupnya-susah-suka-berhutang

https://ngawi.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-2319516205/5-kebiasaan-yang-buat-orang-tetap-miskin-menurut-warren-buffett?page=all


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *