News, Opini  

Teror untuk Tempo, Ancaman untuk Kebebasan Pers!

Ressy Octaviani
Teror untuk Tempo (Ilustrasi by DALL.E)
Teror untuk Tempo (Ilustrasi by DALL.E)

Kantor Redaksi Tempo kena teror, kali ini bukan hanya ancaman biasa di media sosial atau intimidasi verbal. Sebuah paket mencurigakan berisi kepala babi dan bangkai tikus yang sudah dipenggal dikirim langsung ke kantor mereka. Siapa pelakunya? Apa ada pihak tertentu yang berupaya mengintimidasi jurnalis dan mengancam kebebasan pers? Mengapa Tempo yang menjadi target?

Kronologi Teror Kepala Babi

Rabu, 19 Maret 2025, sekitar pukul 16.15 WIB, seorang satpam di kantor Tempo menerima paket misterius. Kotak tersebut tidak mencantumkan nama pengirim dan dialamatkan kepada Fransisca Christy Rosana atau Cica. Cica adalah Jurnalis sekaligus host siniar politik “Bocor Alus Politik” (BAP).

Saat Cica kembali dari tugas liputan dan membuka paket itu keesokan harinya. Betapa terkejutnya ia dan rekannya melihat kepala babi tanpa telinga terbungkus plastik di dalamnya. Bau busuk segera menyebar ke seluruh ruangan. Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra ditemani Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) langsung melaporkan kejadian ini ke polisi. (Kompas, 2025)

Kronologi Teror Bangkai Tikus

Tak berhenti di situ, dua hari kemudian, pada Sabtu, 22 Maret 2025, sekitar pukul 08.00 WIB, petugas kebersihan menemukan paket lain di depan kantor Tempo. Kotak kardusnya dibungkus kertas kado bergambar bunga mawar merah.

Namun, isinya jauh dari kata romantis: enam bangkai tikus tanpa kepala disusun rapi di dalamnya. Rekaman CCTV menunjukkan paket ini dilempar oleh orang tak dikenal pada pukul 02.11 WIB dari luar pagar kantor. (Kompas, 2025)

Pemred Tempo, Setri Yasra, menegaskan bahwa kiriman bangkai hewan tersebut adalah teror terhadap kerja media dan kebebasan pers. Ia menekankan bahwa jika tujuan teror tersebut untuk menakuti, pihaknya tidak gentar, dan meminta agar tindakan pengecut tersebut dihentikan.

Ancaman di Media Sosial

Sebelum menerima bangkai tikus, Tempo sudah lebih dulu mendapat ancaman di medsos. Akun Instagram @derrynoah mengunggah pesan menyeramkan:

“Kami akan terus mengirimkan teror sampai mampus kantor kalian!”

Ancaman ini semakin menguatkan dugaan bahwa teror ini bukan kebetulan, melainkan sebuah rencana sistematis untuk menakut-nakuti redaksi Tempo. (Kompas, 2025)

Reaksi Dewan Pers

Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, mengutuk keras tindakan teror tersebut, menyebutnya sebagai bentuk nyata pelanggaran dan intimidasi terhadap pers. Ia menekankan bahwa kemerdekaan pers adalah hak asasi yang dijamin oleh undang-undang. Ia mengungkapkan bahwa, tindakan teror semacam ini mencederai demokrasi serta kerja profesional jurnalis. Ninik juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pelaku teror agar kejadian serupa tidak terulang. (Tempo.co, 2025)

Selain itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers juga mengecam keras tindakan intimidasi ini. Mereka menilai bahwa pengiriman kepala babi tersebut merupakan ancaman serius terhadap independensi serta kemerdekaan pers di Indonesia. Tindakan ini dianggap sebagai upaya menghalangi kerja jurnalistik yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (AJI, 2025)

Mengapa Tempo?

Teror ini menimbulkan tanda tanya besar: Mengapa hanya Tempo yang saat ini menjadi target?

Berikut adalah kemungkinan alasannya:

1. Liputan Kritis dan Berani

Tempo dikenal sebagai media yang sering mengungkap isu-isu sensitif, mulai dari korupsi, politik kotor, hingga skandal besar lainnya. Kemungkinan besar, ada pihak yang merasa terancam oleh pemberitaan mereka.

2. Siniar “Bocor Alus Politik”

Siniar ini membahas berbagai isu politik dengan gaya satir dan kritis. Tidak menutup kemungkinan, ada pihak tertentu yang merasa tersindir dan memutuskan untuk “membungkam” Tempo dengan cara intimidasi.

3. Upaya Mengintimidasi Media Lain

Bisa jadi, serangan terhadap Tempo adalah peringatan bagi media lain agar tidak mengikuti jejaknya dalam mengkritik kekuasaan. Ini bukan pertama kalinya pers di Indonesia mendapat ancaman semacam ini.

Intimidasi Jurnalis: Sejarah Panjang yang Berulang

Sejak dulu, jurnalis selalu menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa kepentingannya terganggu. Wartawan investigasi, khususnya, sering kali berhadapan langsung dengan ancaman nyata.

Salah satu kasus kekerasan terhadap jurnalis yang paling disorot adalah pembunuhan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogyakarta. Dikenal karena tulisan-tulisannya yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru dan militer, Udin diserang oleh dua pria tak dikenal pada 13 Agustus 1996 di depan rumah kontrakannya di Bantul. Setelah tiga hari dalam kondisi koma, ia meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 di RS Bethesda Yogyakarta.

Pembunuhan Udin diduga terkait liputannya mengenai dugaan korupsi Megaproyek Parangtritis. Namun, penyelidikan penuh kendala—barang bukti hilang, ada dugaan keterlibatan aparat, dan upaya pengalihan isu dengan menuduh pihak lain tanpa bukti kuat. Hingga kini, kasusnya masih belum terungkap (AJI Indonesia, 2022).

“Kasus pembunuhan Udin masih menjadi utang penegakan hukum di Indonesia”

Dan sekarang, dengan munculnya paket kepala babi ini, kita seakan diingatkan bahwa ancaman terhadap jurnalis masih ada, dan bahkan semakin terang-terangan.

Mengapa Kepala Babi dan Bangkai Tikus?

Di beberapa budaya, kepala babi sering dianggap sebagai simbol hewan yang kotor dan rakus. Pandangan ini terutama ada dalam agama Islam dan Yahudi, di mana babi dianggap najis dan tidak boleh dikonsumsi.

Dalam kasus ini, kepala babi bisa dianggap sebagai bentuk intimidasi, penghinaan dan ancaman. Bisa disimpulkan bahwa, kiriman paket kepala babi ke kantor Tempo adalah sebagai bentuk teror agar Tempo berhenti memberitakan suatu isu.

Tikus yang dipenggal? Bisa jadi simbol bagi mereka yang dianggap sebagai “pengkhianat” atau “pengganggu.” Dalam budaya Mesir kuno, tikus dikaitkan dengan “kematian”.

Namun, di Indonesia, tikus lebih sering diasosiasikan dengan korupsi. Alih-alih menakutkan, kiriman ini justru bisa diartikan lain—

“oh, ada yang gerah nih sama pemberitaan mereka?”

Siapapun pelakunya, satu hal jelas: mereka ingin membuat takut. Mereka ingin jurnalis khususnya Tempo, berpikir dua kali sebelum menulis berita yang mungkin mengusik kepentingan tertentu.

Tidak Akan Membungkam Tempo!

Teror kepala babi dan bangkai tikus ini jelas merupakan upaya intimidasi. Namun, apakah ini akan membuat Tempo gentar?

Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra, menegaskan:

“Jika mereka ingin kami diam, maka mereka salah. Kami tidak akan takut.”

Insiden ini justru mendapat solidaritas besar dari komunitas pers dan masyarakat. Banyak yang mendesak polisi untuk segera menangkap pelaku, agar tidak ada lagi teror semacam ini terhadap jurnalis di Indonesia.

Intimidasi seperti ini tidak boleh dibiarkan. Kebebasan pers adalah pilar demokrasi. Jika Tempo bisa diteror, maka media lain bisa menjadi target berikutnya.

Sekarang, pertanyaannya:

Apakah pelaku akan terungkap? Atau ini akan menjadi salah satu kasus yang berlalu tanpa penyelesaian (LAGI)?

“Hari ini kepala babi. Besok apa? Jangan sampai kebebasan pers di Indonesia ikut ‘disembelih’!”

Referensi

https://www.kompas.com/tren/read/2025/03/21/154500865/kronologi-kantor-tempo-dapat-kiriman-kepala-babi-berbau-busuk-dan-pengirim

https://megapolitan.kompas.com/read/2025/03/22/18452771/kantor-tempo-kembali-diteror-kini-paket-isi-6-bangkai-tikus

https://megapolitan.kompas.com/read/2025/03/22/19280471/sebelum-dikirimi-6-bangkai-tikus-tempo-diancam-teror-sampai-mampus-kantor

https://www.tempo.co/hukum/dewan-pers-mengutuk-keras-teror-kepala-babi-terhadap-jurnalis-tempo-1222793

https://aji.or.id/berita-aji/26-tahun-kasus-pembunuhan-wartawan-udin-belum-tuntas-negara-kemana-presiden-perintahkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *