Banyak pasangan melangkah ke altar pernikahan disertai gelombang euforia. Janji “selamanya” membangkitkan hormon dopamin dan oksitosin yang mendorong kedua belah pihak mengikat janji suci. Namun, dalam kondisi emosional tertinggi itulah banyak orang menandatangi kontrak seumur hidup. Padahal, itu adalah keputusan besar di tengah kondisi paling tidak rasional. Ironisnya, hampir semua orang melakukannya.
Mitos yang Membayangi
Banyak masyarakat percaya bahwa pernikahan adalah kisah bahagia hingga akhir. Bahwa cinta romantis saja cukup, bahwa setelah ucapan “I do”, semua aspek kehidupan akan berjalan lancar-lancar saja. Bahwa pasangan akan senantiasa setia, keuangan terjamin, dan kecocokan selamanya itu terjadi tanpa usaha tambahan. Penelitian membongkar mitos‑mitos ini:
-
Dalam artikel “10 Myths of Marriage” dari National Marriage Project disebut bahwa kunci sukses jangka panjang dari sebuah pernikahan tidak berdasar hanya kepada keberuntungan dan cinta romantis.
-
Situs edukasi hubungan menegaskan, misalnya mitos bahwa “jika pasangan benar mencintai saya, maka ia secara naluriah tahu apa yang saya butuhkan” adalah keliru. Komunikasi aktiflah yang menjadi kunci penting dalam langgengnya sebuag hubungan.
Realitas yang Selalu Berubah
-
Setiap individu berubah seiring waktu. Penelitian Karney dan Bradbury (2020) dengan tajuk Research on Marital Satisfaction and Stability in the 2010s menitikberatkan bahwa kepuasan pernikahan tidak selalu menurun di semua kasus, tetapi tetap stabil atau meningkat dalam banyak kasus jangka panjang.
-
Berdasarkan meta‑analisis yang di lakukan oleh Bühler, Krauss, dan Orth (2021), ada titik terendah kepuasan dalam hubungan setelah sekitar 10 tahun. Dalam jangka sepuluh tahun, kepuasan dalam pernikahan dalam mengalami penurunan sebelumnya nantinya akan kembali meningkat.
-
Masalah dalam hubungan sering tetap stabil dari waktu ke waktu. Bukan karena jumlah masalah meningkat, tetapi toleransi terhadap masalah menurun.
Pernikahan hanya sebagai Kontrak
Pernikahan dengan arti yang sesungguhnya bukanlah dongeng dengan akhir bahagia selamanya. Sebaliknya, pernikahan merupakan permulaan fase hidup baru yang memiliki makna-makna berikut:
-
Merupakan kontrak sosial dan legal antara dua orang yang sepakat melalui suka dan duka, sambil terus berubah bersama.
-
Memerlukan keterampilan yang sering diabaikan: kemampuan untuk berargumen secara sehat (tidak menyerang karakter), kemampuan berkomunikasi jujur tanpa merendahkan, dan kemampuan untuk berkompromi tanpa kehilangan jati diri sendiri.
-
Harus dapat beradaptasi dalam menghadapi fase‑fase yang berbeda. Baik itu dalam fase mengurus anak usia dini, berhubungan dengan gejolak atau stagnasi dalam karir, gejolak dalam kesehatan, rasa kesepian, maupun berbagai perubahan hidup lainnya. Tanpa kesadaran akan fase-fase ini, resiko kecewa dalam pernikahan menjadi lebih besar.
Mengapa Pernikahan Bisa Terasa “Aneh”?
Karena banyak orang masuk ke dalamnya dengan ekspektasi romantis yang tinggi — diiringi hormon dan euforia — namun tanpa persiapan yang cukup untuk kenyataan jangka panjang. Pernikahan mungkin dijadikan pelarian dari kesendirian atau karena “semuanya menikah”, padahal:
-
Mengandalkan rasa cinta saja tidak cukup. Diperlukan usaha dan perencanaan yang matang untuk membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia.
-
Mengharapkan bahwa segalanya akan berjalan lancar tanpa usaha adalah keliru.
-
Jika kebahagiaan bergantung hanya pada status menikah, bukan pada dua individu yang bahagia dan aman bersama, maka pernikahan bisa menjadi sumber friksi, bukan solusi.
Cara Melihat Pernikahan dengan Lebih Matang
-
Pandang pernikahan sebagai perjalanan panjang yang memerlukan pengelolaan, bukan sebagai garis finish kemenangan.
-
Pastikan kebahagiaan Anda sendiri terlebih dahulu sebelum berpikir untuk membahagiakan orang lain. Karena menikah tidak otomatis menjamin kebahagiaan. Anda dan pasangan harus terlebih dahulu menjadi orang yang bahagia dan stabil baik secara finansial maupun emosional untuk membentuk kebahagiaan bersama.
-
Hargai kebiasaan‑kebiasaan kecil bersama, tanggung jawab sehari‑hari, interaksi sederhana yang membentuk ketahanan bersama.
-
Sadari bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang dijalani atas dasar kesiapan dan komitmen, bukan karena tidak ingin tertinggal dengan yang lain.
-
Sadari fase‑fase yang akan berubah, dan bersiaplah melakukan adaptasi, komunikasi, kompromi. Karena pasangan dan kondisi akan berubah seiring waktu.
Referensi
- https://afajournal.org/past-issues/2004/february/10-myths-of-marriage
- https://www.nurturingmarriage.org/studies-show/7-lies-society-is-telling-you-about-your-marriage?
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34108739/
- https://mediarelations.unibe.ch/media_releases/2021/media_releases_2021/relationship_satisfaction_at_its_lowest_point_after_10_years/index_eng.html?
- https://news.uga.edu/marital-problems-remain-stable-even-as-satisfaction-declines-1214/?