News  

Genie Make a Wish dan Dear X: Di antara Nature dan Nurture

Elsa Silalahi
Dear X: Ketika Lingkungan Diam-diam Membentuk Masa Depan Anak
Dear X: Ketika Lingkungan Diam-diam Membentuk Masa Depan Anak (sumber: Portal Purwokerto)

Dalam gemerlap drama Korea, kita sering terpesona oleh karakter dengan sisi gelap yang memikat. Namun Genie, Make a Wish dan Dear X menghadirkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar konflik dan edisi manipulasi: keduanya menunjukkan bagaimana seorang anak dapat terbentuk oleh kombinasi antara sifat bawaan dan lingkungan yang membesarkan mereka.

Dari Ka-young yang lahir tanpa empati hingga Baek Ah-jin yang ditempa oleh trauma, dua drama ini seperti mengulangkan satu pelajaran penting: kepribadian ekstrem bukan muncul dalam semalam; ada jejak panjang di masa kecilnya.

Psikopat dalam Genie, Make a Wish: Sifat Bawaan yang Dikendalikan oleh Disiplin

Ka-young digambarkan sebagai psikopat yang lahir dengan minim empati, respons emosional datar, dan pola pikir yang sangat terkontrol. Gambaran ini sejalan dengan penelitian Robert D. Hare (1993) yang menyebut bahwa psikopat memiliki kecenderungan neurobiologis bawaan.

Namun drama menunjukkan bahwa lingkungan tetap berperan. Nenek Ka-young membesarkannya dengan aturan ketat dan struktur kehidupan yang rapi. Ini selaras dengan temuan Blair (2013) yang menyebutkan bahwa pola asuh stabil dapat membantu anak dengan kecenderungan psikopat berfungsi lebih adaptif dan tidak berkembang menjadi pelaku kekerasan.

Dengan kata lain, bawaan Ka-young tidak hilang, tetapi lingkungannya mencegah ia makin destruktif.

Sosiopat dalam Dear X: Luka Masa Kecil yang Membentuk Karakter Manipulatif

Berbeda dari Ka-young, Baek Ah-jin adalah representasi sosiopati yang terbentuk oleh lingkungan keras dan penuh trauma. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak aman, minim kelekatan, dan penuh pengabaian emosional.

Menurut American Psychological Association, sosiopati lebih sering dipicu oleh faktor lingkungan—terutama kekerasan rumah tangga, kehilangan figur pengasuh, dan pola asuh yang tidak konsisten. Hal ini tercermin pada Ah-jin yang membangun mekanisme bertahan hidup berupa manipulasi, kebohongan, dan agresi sosial.

Penelitian Widom (1989) juga menunjukkan bahwa anak yang mengalami kekerasan atau pengabaian memiliki risiko tinggi mengembangkan perilaku antisosial saat dewasa. Ah-jin adalah contoh dramatis dari teori ini.

Lingkungan & Sifat Bawaan: Dua Jalan Berbeda yang Bisa Bertemu di Titik Sama

Kedua drama ini seakan saling melengkapi. Ka-young dan Ah-jin menunjukkan dua jalur pembentukan perilaku antisosial:

  1. Psikopat
    – Lebih banyak berasal dari faktor bawaan biologis.
    – Namun tetap dipengaruhi pola asuh yang membentuk cara mereka berfungsi.
  2. Sosiopat
    – Lebih banyak dibentuk oleh pengalaman pahit dan lingkungan buruk.
    – Trauma membuat mereka membangun pertahanan diri yang ekstrem.

Kedua contoh ini memberikan penegasan yang sama dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Tharshini dkk. (2021). Psikopati dan sosiopati merupakan kemungkinan kelainan pada komponen genetik yang diperburuk oleh faktor lingkungan dan sosial seperti ACEs (Adverse Childhood Experience atau Pengalaman Masa Kecil yang Buruk). Genetik dan lingkungan bukan saling menggantikan—keduanya saling memperkuat.  Anak dengan bawaan temperamen sulit akan semakin berisiko bila dibesarkan dalam lingkungan yang kacau.

Pelajaran Tumbuh Kembang Anak dari Dua Drama Ini

Meskipun bersumber dari fiksi, pesan psikologinya terasa sangat nyata dan dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

1. Ciptakan rumah yang aman secara emosional

Bowlby (1988) menegaskan bahwa secure attachment menghasilkan anak yang memiliki empati tinggi dan kemampuan sosial yang baik.

2. Hindari pola asuh otoriter ekstrem

Disiplin tetap perlu, tetapi harus disertai ruang dialog dan pendampingan.

3. Tangani trauma sedini mungkin

Pengalaman buruk yang diabaikan dapat membentuk pola kepribadian yang kelak sulit dikoreksi.

4. Ajarkan regulasi emosi

Mengenali marah, sedih, takut, dan kecewa membantu anak mengembangkan kontrol diri.

5. Dorong interaksi sosial positif

Kelekatan dengan teman sebaya yang sehat membangun empati dan pemahaman sosial.

6. Jangan ragu mencari bantuan profesional

Psikolog anak dapat membantu mengatasi trauma atau tanda-tanda gangguan perilaku sejak dini.

Kesimpulan

Genie, Make a Wish dan Dear X secara berbeda menunjukkan bagaimana kepribadian ekstrem terbentuk. Ka-young menunjukkan sisi bawaan psikopati yang dapat “dikelola” lewat lingkungan yang terstruktur. Sementara Ah-jin menunjukkan bagaimana trauma dan pengabaian dapat menciptakan pribadi yang antisosial dan manipulatif.

Kedua cerita ini menegaskan satu hal sederhana:
anak adalah produk dari apa yang mereka bawa sejak lahir dan apa yang mereka temui di dunia.
Dan sebagai orang dewasa, kita memiliki peran besar dalam memastikan dunia itu tidak menjadi tempat yang salah.

Referensi

  1. Blair RJ. The neurobiology of psychopathic traits in youths. Nat Rev Neurosci. 2013 Nov;14(11):786-99. doi: 10.1038/nrn3577. Epub 2013 Oct 9. PMID: 24105343; PMCID: PMC4418507.
  2. Hare, R. D. (1993). Without Conscience: The Disturbing World of the Psychopaths among Us. New York, NY: The Guilford Press.
  3. Patrick, C. J., & Nelson, L. D. (2014). Antisocial personality disorder. In S. G. Hofmann, D. J. A. Dozois, W. Rief, & J. A. J. Smits (Eds.), The Wiley handbook of cognitive behavioral therapy (pp. 1263–1297). Wiley Blackwell.
  4. Widom, C. S. (1989). The cycle of violence. Science, 244(4901), 160–166. https://doi.org/10.1126/science.2704995
  5. Bowlby, J. (1958). The nature of the child’s tie to the mother. International Journal of Psychoanalysis, 39, 350-373. 
  6. Rybicki, M. (2024). Serial Homicide: Forensic Psychological Perspective on Nature versus Nurture (Doctoral dissertation).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *