Opini  

Al-Qur’an dan Alam Semesta

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Associate Professor Universitas Al Azhar Indonesia)

admin
Al-Qur'an dan Alam Semesta (foto: freepik.com)
Al-Qur'an dan Alam Semesta (foto: freepik.com)

Al-Qur’an dan Penciptaan Alam Semesta

Manusia sejak sejarah peradabannya selalu menanyakan hakikat alam semesta. Bagaimana alam semesta tercipta, siapakah yang menciptakan, ataukah ia ada sebagaimana adanya tanpa ada yang mencipta? Pertanyaan ini sudah ditanyakan sejak era para filsuf Yunani Kuno. Mereka ini mencoba menjawab keingintahuan melalui pengembangan pengetahuan yang dimiliki (Madani, et.al., 2022).

Pertanyaan tentang alam semesta terus mengalir dalam beragam peradaban kebudayaan manusia di dunia. Beragam pertanyaan dan juga jawaban yang dihadirkan oleh para pemikir tentu menghasilkan ragam jawaban yang berbeda, dari yang mitos hingga logis muncul sebagai bentuk respons atas berbagai pertanyaan yang terlontar.

Baca juga: Ramadhan dan Pembebasan Diri

***

Al-Qur’an hadir tidak hanya menghubungkan relasi manusia dan Tuhan dalam konsep teologi, tetapi juga menjadi kitab yang sangat moderen karena menghadirkan pula jawaban pengetahuan dalam konsep epistemologi. Al-Qur’an menjelaskan bahwa gagasan teologi ketuhanan dan epistemologi pengetahuan tidaklah terpisahkan dalam bentuk yang sekuler, sebagaimana yang dihadirkan oleh pengetahuan barat. Bahwa dalam Islam, Tuhan selalu dinyatakan sebagai Pencipta atas segenap benda alam semesta (Qs.32:4). Al-Qur’an menjelaskan bahwa alam semesta tercipta olehNya dalam enam masa (Qs.11:7). Enam masa tidak menunjukkan sebuah hitungan hari, minggu, bulan ataupun tahun. Enam masa menunjukkan enam tahapan penciptaan alam semesta.

***

Tahapan penciptaan alam semesta tertera dalam Qs.79: 28-33, dimana Allah dalam tahap I mulai membangun alam semesta dan menyempurnakannya. Memasuk tahap II Allah menciptakan malam dan siang, dan masuk tahap III Allah membentuk dan menghamparkan bumi. Dari terciptanya bumi ini Allah lalu mengalirkan dan memancarkan air dan tumbuh-tumbuhan dalam tahap IV. Memasuki tahap V Allah menciptakan gunung-gunung guna memperkokoh bumi yang telah Dia ciptakan di tahap III sebelumnya. Memasuk tahap VI sebagai tahap akhir Allah menciptakan hewan-hewan sebagai supporting system hidup manusia. Tidak dijelaskan berapa hari, minggu, bulan, atau tahun yang dibutuhkan dalam 1 tahapan penciptaan tersebut di atas.

***

Sebagai produk ciptaan Allah, alam semesta bukanlah entitas yang statis. Alam semesta mengalami proses dinamis, dan sejak diciptakan alam semesta terus mengalami pengembangan dan perluasan (Qs.51:47). Bahwa alam semesta termasuk bumi dan segenap objek alam terus mengalami proses dinamis berupa perubahan, perubahan, serta pergerakan. Gunung-gunung tidaklah diam di tempatnya, melainkan bergerak (Qs.27:88), hal ini secara ilmiah terbukti dengan bergeraknya lempeng bumi antara 1-10 cm pertahun (https://manoa.hawaii.edu/sealearning/grade-4/earth-and-space-science/exploring-plate-tectonics).

Al-Qur’an, Makhluk, & Eksistensi Tuhan

Al-Qur’an menjelaskan bagaimana tumbuh-tumbuhan dan hewan tumbuh dan bekembang biak. Air hujan menjadi hal pokok dalam proses kembang tumbuh-tumbuhan serta biji-bijian (Qs. 78: 14-15). Air hujan memberikan manfaat yang sangat besar bagi proses pertumbuhannya karena ia memiliki pH yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan dibandingkan air yang dialirkan melalui selang. Pada saat tertentu air yang dialirkan oleh selang dapat tercemar oleh klorin yang dapat membahayakan tumbuh-tumbuhan (Setiawan, 2022).

***

Lebah sebagai hewan mendapat perhatian utama dalam al-Qur’an. Lebah mendirikan sarangnya di gunung, pohon kayu, dan juga tempat yang telah dibuat oleh manusia (Qs.16:68). Hewan tersebut menghasilkan madu yang digunakan sebagai obat yang mendukung kesehatan manusia (Qs.16:69). Proses pembentukan madu oleh kawanan lebah dalam al-Qur’an menunjukkan patuhnya kawanan lebah atas perintah Allah untuk menempuh jalan tertentu, membangun sarang, hingga menghasilkan produk yang mendukung kesehatan manusia. Begitu pentingnya madu bagi manusia, peradaban manusia telah memanfaatkan lebah madu sejak 15.000 tahun yang lalu di daerah Mesir (Republika, 2022).

***

Dalam al-Qur’an begitu istimewanya hewan lebah dan madu, maka ia diabadikan dalam sebuah surah khusus, an-Nahl. Produk yang dihasilkan lebah tidak hanya madu, melainkan juga produk turunannya: propolis, royal jelly, lilin lebah. Kesemuanya menjadi bahan obat juga minuman yang menyehatkan bagi proses penyembuhan dalam dunia kesehatan manusia (Zaidi, et.al., 2021).

Kehidupan lebah juga menjadi acuan bagi cara hidup manusia, sebagaimana tertera dalam sebuah hadits:

“Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.” (HR Ahmad).

Hewan-hewan selain lebah juga dijelaskan dalam al-Qur’an, beberapa hewan digunakan manusia sebagai binatang ternak juga sebagai sarana untuk menggarap kebun, sawah, dan ladang dan sebagian hewan lainnya tercipta sebagai sebuah kesenangan bagi manusia (Qs.3:14, 40:79). Beberapa hewan juga diciptakan dengan tujuan tertentu, seperti sebagai sarana untuk menghangatkan tubuh melalui bulu-bulu yang terdapat dalam tubuh hewan (Qs.16:5). Beragam cara hidup hewan baik yang hidup di air, hewan yang berjalan dengan perutnya seperti ular, sebagian hewan berjalan melangkah dengan dua kaki seperti unggas, dan yang berjalan dengan empat kaki (Qs.24:45). Hal menarik dalam proses tumbuh kembang hewan sama dengan proses tumbuh manusia yaitu tercipta secara berpasangan laki-laki dan perempuan, jantan dan betina (Qs.42:11, 43:12).

***

Ayat Qur’an juga berkisah mengenai bahan galian tambang. Segala yang ada di bumi termasuk di dalamnya adalah bahan galian tambang (batu bara, emas, perak, perhiasan) juga minyak bumi diciptakan oleh Allah demi kemashlahatan umat manusia (Qs.2:29). Maka segenap bahan galian yang terkandung dalam tubuh bumi tidaklah dapat dimiliki oleh perseorangan untuk kekayaan dirinya pribadi. Segenap bahan galian yang mencipta kemakmuran serta kemashlahatan orang banyak dengan tetap memperhatikan kelestarian atas segenap sumber daya alam yang tersedia dari ancaman kerusakan akibat perilaku manusia yang mengeksploitasi tanpa batas (Qs.30:41).

***

Konstruksi epistemologi pengetahuan tentang pola hidup makhluk ini, tidak terpisahkan dari konsep gagasan teologi Islam, karena kesemuanya tunduk, patuh, dan sujud kepada Allah Swt selaku Sang Maha Pencipta. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan akal dan kehendak makhluk hidup berada dalam pengawasan dan kekuasaan Allah, serta tunduk dan sujud padaNya (Qs.22:18).

Penutup

Ilmu pengetahuan menjadi substansi yang mendalam dalam al-Qur’an, bahwa ia bukan semata berbincang mengenai proses peribadatan manusia, tetapi juga menghadirkan pengetahuan yang begitu luar biasa bagi kaum muslimin dan manusia manapun yang meyakini kebenarannya. Berbeda dengan pemahaman Eropa yang menolak eksistensi Tuhan dalam pengetahuan, al-Qur’an justru menunjukkan bahwa ilmu adalah sebagai sarana bagi manusia untuk mengetahui serta memahami eksistensi Tuhan itu sendiri dan semakin mendekat padaNya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *