Budaya patriarki, seakan menjadi bayangan yang terus membayangi masyarakat. Meskipun zaman terus berubah, dan terkesan sebagai isu kuno, kenyataannya budaya ini tetap menjadi penyakit yang mematikan dan tak pernah habis oleh zaman.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang budaya patriarki yang nyatanya belum bisa kita putus rantai perputarannya. Saya tidak ingin membahas tentang kesetaraan gender, tulisan ini akan menyajikan opini saya tentang mengapa bisa patriarki masih ada hingga saat ini.
Budaya Patriarki: Isu Kuno yang Tak Pernah Habis oleh Zaman
Artikel ini akan mengeksplorasi fenomena budaya patriarki, menyelidiki alasan mengapa isu ini tetap relevan dan menantang hingga saat ini. Berikut pembahasannya:
Kenalan Dulu, Apa Itu Patriarki?
Budaya patriarki adalah suatu sistem sosial yang memberikan dominasi dan kendali kepada pria dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, pria dianggap sebagai otoritas utama dalam keputusan, sementara perempuan sering kali diposisikan di bawah kendali dan pengaruh mereka.
Budaya ini menciptakan struktur kekuasaan yang membedakan peran dan tanggung jawab berdasarkan jenis kelamin, mengakibatkan ketidaksetaraan yang nyata. Norma-norma patriarki melibatkan ekspektasi terhadap perilaku maskulinitas dan femininitas, membatasi kebebasan individu untuk mengejar minat, karir, dan hubungan sesuai dengan keinginan mereka.
Salah satu ciri khas dari patriarki adalah pembatasan peran gender yang kaku. Pria diharapkan untuk mengemban peran sebagai penentu keputusan, pemimpin keluarga, dan pencari nafkah utama, sementara perempuan seringkali ditempatkan dalam peran sebagai ibu rumah tangga dan pengurus anak.
Penting untuk dicatat bahwa perlawanan terhadap patriarki bukanlah serangan terhadap pria sebagai individu. Melainkan sebuah upaya untuk merombak sistem yang menciptakan ketidaksetaraan peran. Fokusnya adalah pada perubahan norma-norma sosial, budaya, dan kebijakan yang mendukung dominasi pria dan mengekang potensi perempuan serta individu dari berbagai lapisan masyarakat.
Keabadian Budaya Patriarki
Patriarki bisa dikatakan adalah salah satu warisan sejarah. Budaya ini memiliki akar yang dalam pada sejarah manusia. Struktur ini bukan hanya suatu model pergerakan sosial, tetapi sebuah warisan leluhur yang mampu menciptakan norma dan nilai-nilai yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.
Artinya, patriarki ini sudah ada sejak lama dari terdahulu kita. Namun, masih ada sampai sekarang bukan berarti tidak ada pergerakan untuk melawan budaya tersebut. Pertanyaannya, siapa yang melawan dan siapa yang dilawan.
Dalam kasus patriarki ini tidak melawan suatu individu tertentu. Gerakan menolak patriarki merupakan upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama. Sama-sama berhak untuk mendapat kehidupan yang nyaman, dan mendapat status sosial yang sama-sama dianggap perannya.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi yang namanya perkembangan Sosial yang Lamban. Meskipun masyarakat mengalami perkembangan yang cepat dalam banyak aspek, tetapi perubahan terhadap norma-norma patriarki cenderung lamban.
Ini bisa disebabkan oleh resistensi terhadap perubahan, pemeliharaan kekuatan struktur yang ada, dan ketidaknyamanan dalam menghadapi perubahan. Contoh simpelnya, perempuan memiliki batas usia dalam bekerja. Meski laki-laki juga sama, tetapi batasan usia sebagai syarat kerja ini lebih didominasi oleh syarat yang ditujukan kepada perempuan.
Isu Kuno, Dampak Kontemporer
Peran Gender yang Terbatas. Budaya patriarki masih mengendalikan persepsi terhadap peran gender. Pria diharapkan untuk menjadi pemimpin dan penentu kebijakan, sementara perempuan sering kali dihambat untuk mencapai potensi penuh mereka.
Selain pembatasan peran perempuan, tekanan pada Pria juga menjadi problem di sini. Tidak jarang, budaya patriarki ini membebankan pria pada peran ganda. Meskipun budaya patriarki memberi keuntungan kepada pria dalam beberapa aspek, hal ini juga menciptakan tekanan untuk mematuhi norma-norma maskulinitas yang sempit.
Pria pun dapat merasa terbelenggu oleh ekspektasi sosial ini. Artinya, budaya patriarki ini bisa memberikan dampak yang buruk terhadap perempuan juga laki-laki. Artinya juga, siapa saja bisa menjadi pelaku dan siapa saja bisa menjadi korban dari budaya ini.
Tantangan Menghadapi Budaya Patriarki
Kemudian, apa yang bisa memutus rantai budaya ini. Menurut saya, semua ini mulai dari diri sendiri. Membentuk diri menjadi pribadi yang merasa memiliki peran bersama dengan orang lain atau patners. Artinya, memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga satu sama lain.
Kemudian, sebagai perempuan harus sudah membekali diri dengan rasa kepercayaan diri dan tidak mudah terganggu oleh budaya ini. Memang ada beberapa perempuan yang kurang memiliki kemampuan untuk melawan, itulah tugas sesama perempuan untuk saling mengedukasi perempuan lain agar menjadi kuat.
Kuat yang saya maksudkan bukanlah sesuatu yang melawan dengan fisik. Melainkan kuat untuk membentuk pribadi yang tidak mudah diremehkan oleh orang lain. Karena, bukan hanya laki-laki yang berpotensi sebagai pelaku patriarki. Tidak jarang, sesama perempuan dapat menjadi pelaku patriarki ini.
Kebebasan yang sejatinya itu hanya perlu dimulai dari pikiran masing-masing. Jika sejak dalam pikiran kita sudah merasa lemah dan tidak berdaya, maka orang lain akan mudah meremehkan kita. Artinya, budaya patriarki ini bisa kita lawan dengan mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu.
Begitu juga dengan laki-laki. Tidak jarang mereka merasa memiliki beban ganda dengan adanya budaya patriarki. Beban ganda yang dimaksudkan adalah, misalnya seperti jika laki-laki tidak etos bekerja maka akan mendapat pandangan buruk dari masyarakat.
Contoh sederhananya lagi seperti, laki-laki tidak memiliki ruang untuk berekspresi tentang perasaannya. Jika laki-laki menangis, maka ia akan dianggap menjadi laki-laki yang lemah. Padahal nangis adalah bentuk ekspresi bagi semua orang. Tidak peduli laki-laki atau perempuan.
Maka, dari kesadaran diri secara tidak langsung akan membentuk masyarakat yang bebas dari budaya patriarki. Bayangkan jika masing-masing orang memiliki kesadaran seperti ini, maka masing-masing tersebut akan membentuk sebuah kesatuan besar yang disebut dengan masyarakat.
Pembatasan Kewajiban dan Tugas
Budaya patriarki sudah dianggap kuno untuk dibahas, tetapi nyatanya esensinya masih ada hingga saat ini. Dalam kasus ini, saya tidak memandang bahwa budaya ini berdampak buruk bagi perempuan saja. Laki-laki juga merasakan dampak yang tidak adil bagi mereka.
Kemudian, perlawanan budaya patriarki bukan berarti melawan pria sebagai individu tertentu. Yang kita lawan adalah budaya, adat dan stigma masyarakat bahwa ada strata sosial dan tanggung jawab yang harus diperankan oleh perempuan saja, atau laki-laki saja.
Yang mana, sebenarnya semua manusia di bumi ini memiliki hak dan kewajiban yang sama rata. Perempuan memiliki kewajiban menjaga anak dan begitu juga laki-laki. Tugas-tugas sepele yang ditentukan oleh budaya patriaki inilah yang sedang dilawan.
Saya pribadi menganggap bahwa, jika ini berkonteks rumah tangga, tugas menjaga rumah dan anak adalah tanggung jawab bersama. Terlepas dari siapa yang memegang peran tertentu, merupakan hasil bermusyawarah dengan pasangan. Jadi, hal-hal sepele seperti ini ditentukan oleh persetujuan bersama bukan karena keyakinan akan budaya itu.
Pembentukan Hak
Kehidupan yang diatur karena budaya patriarki akan membentuk sikap pemberontakan, yang sebenarnya jika tanpa diatur oleh budaya patriarki pun perempuan dan laki-laki akan dengan senang hati untuk menjalankan kewajiban dan tugasnya.
Perkara hak yang tidak sama, ini bisa jadi lahir karena kewajiban yang sudah ditentukan oleh budaya ini. Artinya, hak ini disesuaikan dengan kewajibannya. Sederhananya, jika seorang perempuan setelah menikah diberikan kewajiban penuh atas mengurus anak dan rumah, maka ia tidak akan mendapat hak di luar kewajiban itu.
Begitu juga laki-laki, jika seorang laki-laki dianggap sebagai tulang punggung keluarga, dan kewajibannya bekerja terus menerus, maka ia hanya memiliki hak untuk bekerja dan tidak dekat dengan keluarganya. Maka, jika seseorang sudah mampu memahami kewajiban dan tugasnya, maka hak tersebut akan mengikutinya.
Kesimpulan
Gerakan menolak budaya patriarki bukan ditujukan pada pria sebagai individu tertentu. Semua masyarakat berperan penting untuk memutus rantai perputaran budaya patriarki ini. Karena, tidak hanya perempuan yang mendapat dampak ketidaknyamanan, tetapi laki-laki juga mengalami pembatasan diri sebagai dampak dari budaya ini.
Selain itu, pelaku patriarki belum tentu laki-laki menjadi pelaku utamanya. Bahkan, sesama perempuan tidak jarang ditemukan perilaku patriarki ini. Lalu apa yang diupayakan dalam gerakan ini? Menurut saya, gerakan ini mengajak masyarakat untuk hidup saling berdampingan, membantu dan saling membutuhkan antara perempuan dengan laki-laki.
Tidak ada batasan-batasan kewajiban, tuntutan, hingga hak di dalam gender tertentu. Artinya, bukan menginginkan kedudukan yang setara, atau membebaskan seseorang mengubah jati diri atas nama kebebasan. Ini hanya upaya untuk hidup saling menguntungkan tetapi masih dalam konteks nyaman.
Mulai kesadaran ini dari diri sendiri, hingga pemahaman masing-masing dari kita akan membentuk pemahaman yang umum dalam masyarakat. Mulailah memperbaiki diri sendiri, untuk menciptakan perubahan yang besar pada dunia. Sekian dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!
Semoga semakin jaya kakak