Benar Sibuk atau Gimmick? Task Masking di Era Gen Z

Ketika terlihat sibuk lebih penting daripada benar-benar produktif, Gen Z diam-diam menciptakan strategi bertahan di dunia kerja modern.

Untung Sudrajad
Benar Sibuk atau Gimmick? Task Masking di Era Gen Z
Benar Sibuk atau Gimmick? Task Masking di Era Gen Z (sumber: pexels)

 

Ketika membuka laptop, menyalakan Google Docs, Spotify lo-fi beats, Notion, Slack, dan satu tab “How to Look Busy at Work” dianggap sebagai tanda produktivitas, maka Gen Z barangkali sudah pantas mendapat penghargaan karyawan teladan sedunia.

Sayangnya, hidup tidak sesederhana jumlah tab yang terbuka. Ada fenomena unik (dan sedikit ironis) yang sedang ramai di kalangan generasi ini, yaitu terlihat sibuk, tapi sebenarnya… ya, tidak ke mana-mana.

Selamat datang di dunia task masking, tempat di mana mouse terus bergerak, keyboard berbunyi nyaring, tapi pekerjaan utama masih menunggu nasib.

Apa Itu Task Masking dan Mengapa Gen Z Jadi Tersangka Utama?

Task masking adalah perilaku berpura-pura sibuk dengan pekerjaan, bukan untuk menipu atasan semata, tapi sering kali untuk menenangkan diri sendiri. Istilah ini mulai populer seiring budaya kerja digital yang serba daring dan serba cepat. Dalam praktiknya, task masking bisa berupa membalas email yang tidak terlalu penting berulang kali, merapikan file yang sudah rapi, atau membuka dokumen kerja sambil sebenarnya menatap kosong ke layar selama 20 menit.

Gen Z sering disebut-sebut sebagai “pelaku utama” fenomena ini. Tapi tentu saja, ini bukan soal malas atau tidak kompeten. Justru sebaliknya. Gen Z tumbuh di tengah tekanan untuk selalu produktif, selalu online, dan selalu terlihat “on progress”.

Media sosial penuh dengan konten hustle culture, seperti bangun jam 5 pagi, journaling estetik, kerja sambil ngopi di kafe, dan caption yang berbunyi “grind never stops”. Di tengah arus itu, wajar jika muncul dorongan untuk tampak produktif, meski tubuh dan pikiran sebenarnya lelah.

Budaya Kerja yang Mendorong Kepura-puraan

Mari jujur sejenak. Banyak lingkungan kerja masih mengukur produktivitas dari kehadiran visual, bukan hasil nyata. Siapa yang paling cepat membalas chat? Atau yang online paling lama? Siapa yang terlihat paling sibuk saat Zoom meeting? Di sinilah task masking menemukan rumah yang nyaman.

Kerja hybrid dan remote, yang awalnya diharapkan memberi kebebasan, justru kadang melahirkan kecemasan baru, yaitu takut dikira tidak bekerja.

Akibatnya, muncul ritual-ritual absurd seperti menggerakkan mouse tiap lima menit, mengatur status “busy” sepanjang hari, atau menjadwalkan email agar terkirim di jam kerja meski ditulis tengah malam.

Gen Z, yang dikenal lebih sadar kesehatan mental, berada di posisi serba salah. Di satu sisi, mereka ingin bekerja dengan sehat dan bermakna. Di sisi lain, sistem sering kali belum sepenuhnya siap menerima ritme kerja yang manusiawi.

Antara Lelah Mental dan Distraksi Digital

Task masking juga erat kaitannya dengan kelelahan mental. Ketika otak sudah penuh, mengerjakan tugas berat terasa seperti mendaki gunung tanpa sepatu. Maka, otak memilih jalan pintas, seperti mengerjakan hal-hal kecil yang memberi ilusi kemajuan.

Belum lagi distraksi digital. Notifikasi datang dari mana-mana. Chat kerja bercampur dengan chat teman, email promosi masuk bersamaan dengan deadline. Akhirnya, fokus terpecah, energi habis untuk berpindah-pindah konteks, dan pekerjaan utama tertunda. Namun karena ada “aktivitas”, rasa bersalah sedikit teredam. Inilah jebakan task masking.

Lucunya, semakin sering task masking dilakukan, semakin jauh kita dari produktivitas sesungguhnya. Seperti treadmill, capek, berkeringat, tapi tetap di tempat yang sama.

Task Masking Bukan Malas, Tapi Sinyal

Penting untuk dipahami bahwa task masking bukan sekadar kebiasaan buruk. Ini adalah sinyal. Sinyal bahwa ada yang tidak beres, entah beban kerja yang tidak realistis, tujuan yang tidak jelas, atau kebutuhan istirahat yang diabaikan.

Gen Z sering kali lebih berani menyuarakan batasan, tapi ketika batasan itu tidak dihormati, tubuh dan pikiran mencari cara bertahan. Task masking menjadi mekanisme pertahanan: cara aman untuk tetap “hadir” tanpa benar-benar menguras diri.

Alih-alih menghakimi, fenomena ini seharusnya mengajak kita bertanya, sistem kerja seperti apa yang sedang kita jalani?

Dampak Jangka Panjang: Dari Burnout sampai Krisis Makna

Jika dibiarkan, task masking bisa berdampak serius. Produktivitas semu lama-lama berubah menjadi stagnasi. Pekerjaan menumpuk, rasa bersalah meningkat, dan burnout mengintai. Lebih jauh lagi, muncul krisis makna: “Aku sibuk setiap hari, tapi sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Bagi Gen Z yang cenderung mencari makna dalam pekerjaan, kondisi ini bisa sangat menguras emosi. Bekerja bukan sekadar soal gaji, tapi juga soal identitas dan kontribusi. Task masking, yang awalnya hanya strategi bertahan, bisa berubah menjadi jebakan eksistensial.

Cara Mengatasi Task Masking: Dari Individu hingga Sistem

Mengatasi task masking tidak cukup dengan nasihat klise seperti “ayo lebih fokus”. Perlu pendekatan yang lebih jujur dan manusiawi.

Dari sisi individu, langkah pertama adalah menyadari pola. Bertanya pada diri sendiri, apakah aku benar-benar mengerjakan hal penting hari ini, atau hanya terlihat sibuk?

Kesadaran ini bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk memahami kebutuhan diri sendiri. Kadang, yang dibutuhkan bukan teknik manajemen waktu baru, tapi istirahat yang layak.

Menetapkan prioritas yang realistis juga penting. Tidak semua tugas harus selesai hari ini. Memilah mana yang berdampak besar dan mana yang bisa ditunda membantu mengurangi dorongan untuk mengisi waktu dengan aktivitas semu. Fokus pada satu tugas bermakna sering kali lebih memuaskan daripada sepuluh tugas kecil yang tidak jelas arahnya.

Dari sisi lingkungan kerja, perubahan budaya sangat krusial. Menggeser penilaian dari “siapa paling sibuk” ke “apa hasilnya” bisa mengurangi tekanan untuk berpura-pura. Memberi ruang untuk jeda, diskusi terbuka tentang beban kerja, dan kepercayaan pada karyawan akan membantu menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat.

Pemimpin dan atasan punya peran besar. Ketika atasan berani menunjukkan bahwa istirahat itu wajar dan produktivitas tidak selalu linear, bawahan akan merasa lebih aman untuk bekerja secara autentik.

Gen Z dan Harapan akan Dunia Kerja yang Lebih Waras

Gen Z sering dikritik karena dianggap terlalu sensitif atau kurang tahan banting. Namun mungkin justru mereka yang sedang menunjukkan bahwa sistem lama memang sudah lelah. Task masking adalah gejala, bukan penyakit. Penyakitnya adalah budaya kerja yang terlalu menuntut tanpa cukup empati.

Generasi ini membawa harapan akan dunia kerja yang lebih waras, di mana bekerja keras tidak berarti mengorbankan kesehatan mental, dan produktivitas tidak diukur dari seberapa lelah seseorang terlihat.

Penutup

. Pada akhirnya, task masking mengajarkan satu hal penting, bahwa manusia bukan mesin. Kita bisa terlihat sibuk sepanjang hari, tapi tanpa arah dan makna, semua itu kosong. Gen Z, dengan segala keunikan dan kegelisahannya, sedang berada di garis depan perubahan cara kita memandang kerja.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bangga dengan kalimat “aku sibuk banget” dan mulai bertanya, “apa yang benar-benar penting bagiku hari ini?” Karena produktivitas sejati bukan tentang seberapa penuh kalender kita, melainkan seberapa sadar kita menjalani waktu yang ada.

Ketika kita membuka laptop dan melihat deretan tab yang mengintimidasi, tarik napas sejenak. Tutup satu tab yang tidak perlu. Fokus pada satu hal bermakna. Tidak perlu terlihat sibuk untuk menjadi berharga. Dan mungkin, di situlah awal dari kerja yang lebih jujur, sehat, dan manusiawi.

Referensi:

https://milenianews.com/lifestyle/terlihat-sibuk-tapi-tak-produktif-ini-penjelasan-fenomena-task-masking/

https://www.beautynesia.id/life/mengenal-fenomena-task-masking-di-kalangan-gen-z-dan-cara-mengatasinya/b-312511

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *